Friday, October 16, 2009

Sinopsis Novel Sastra - Tragedi Lokhnga

Judul               : Tragedi Lokhnga
Penulis             : Nasin, S.Pd.
Penerbit           : Hikayat
Tahun Terbit    : September 2006
Cetakan           : Pertama
Tebal Buku      : viii + 148 hlm.
Ukuran Buku  : 14 x 20 cm
Tragedi Lokhnga
Novel ini menceritakan seorang insinyur Geologi ITB kelahiran Lokhnga, Aceh, yang lulus dengan predikat yudisium cumlaude, dalam penelitian dan pengawasan gejala alam di Aceh sesaat sebelum terjadi tsunami. Dia adalah Anwar Fuady.
Cerita bermula saat Anwar mengenang masa-masa indahnya dengan Fadila (Dila), kekasihnya yang menjadi korban letusan Gunung Merapi saat mereka berdua melakukan riset di sana. Sejak kejadian itu Anwar trauma dan tidak mau lagi melakukan riset.
Kriiing! Kriiing!
Saat itu telepon berdering, Anwar agak terkejut mengetahui siapa yang menghubunginya. Pak Sulastomo, seniornya dari Departemen Geologi ITB mengajaknya untuk melakukan riset dan pengawasan di Lokhnga, Aceh. Pak Sulastomo menjelaskan tentang terjadinya gempa di beberapa titik di Aceh yang dicurigai dapat menjadi bencana alam yang dahsyat. Mulanya Anwar menolak, tapi setelah Pak Sulastomo memberikan surat wasiat yang ditulis Dila untuknya, Anwar memutuskan untuk bergabung. Surat itu kurang lebih isinya adalah permintaan Dila agar Anwar terus melakukan riset bagi kemanusiaan.
Hari keberangkatan pun tiba. Anwar memutuskan untuk menggunakan bus. Malang bagi Anwar bus yang ditumpanginya dibajak oleh GAM. Telur sudah menjadi dadar. Anwar ditawan karena dianggap oleh GAM sebagai orang penting. Tapi, karena kemampuan diplomasinya, ia berhasil mempengaruhi seorang prajurit GAM bernama Muadz untuk membebaskannya. Ia diselamatkan oleh TNI dan diantar langsung ke Banda Aceh dengan kawalan mobil serdadu. Dalam perjalanannya, dia terus merenung dan menyayangkan keadaan tanah kelahirannya yang selalu dilanda konflik.
Akhirnya walaupun terlambat dua hari, Anwar sampai di Lokhnga. Ia disambut oleh kakek dan neneknya. Anwar adalah seorang yatim piatu. Tapi dia seorang yang tegar dan ulet. Seorang yang pantas dicontoh.
Ketika melepas rindu dengan Kakek dan Nenek, Kakek bercerita pada Anwar tentang mimpi yang dialaminya tiga hari berturut-turut. Dalam mimpi itu ada burung-burung putih terbang dari arah laut menuju ke daratan yang lebih tinggi, kemudian ada seekor naga yang muncul dari tengah laut. Naga itu meminum air laut sehingga air di pantai surut sampai berkilo-kilo jauhnya. Orang-orang terlihat sibuk menangkap ikan. Kemudian tiba-tiba naga besar itu memuntahkan air yang baru diminumnya, dan air itu bagaikan bah yang menggulung pemukiman Kakek. Seluruh pemukiman tepi pantai hancur. Kemudian Kakek melihat orang azan di menara Masjid Raya Baiturahman. Kakek pun bertanya pada Anwar apa ada bencana alam dengan ciri-ciri seperti itu? Tsunami, jawab Anwar.
Esoknya, disaat waktu senggangnya dalam melakukan riset, Anwar menghadiri rapat kelurahan di desa kakek dan neneknya. Rapat itu membahas pembangunan Lokhnga menjadi kota metropolitan. Investor tunggal proyek tersebut, Bapak Muhammad Mansyur, yang juga kelahiran Lokhnga berniat membangun desa kelahirannya agar bisa  maju dan berkembang. Anwar dan Pak Mansyur pun berkenalan. Anwar menjelaskan pada Pak Mansyur tentang alasannya berada di Lokhnga. Mendengar penjelasan Anwar, Pak Mansyur khawatir proyeknya akan hancur karena bencana alam, sehingga ia meminta Anwar untuk memberitahu perkembangan risetnya pada Pak Mansyur.
Suatu hari, seismograf di pos pengawasan Lokhnga mencatat gempa berkekuatan 4 skala Richter. Anwar dan tim pun memutuskan untuk melakukan penyelaman untuk mengetahui titik gempa. Malangnya, ketika Anwar dan timnya melakukan penyelaman, gempa kembali terjadi. Belakangan gempa tersebut diketahui berkekuatan 6 skala Richter. Setelah berkomunikasi dengan pos riset, ternyata pos riset lain pun mengalami hal yang sama secara beruntun.
Anwar pun memutuskan untuk menghubungi pusat untuk melaporkan hal tersebut. Penasaran dengan mimpi kakeknya, Anwar ditemani Taufik, teman masa kecilnya, mencari arti mimpi tersebut di perpustakaan. Mereka pun menemukan naskah kuno berbahasa Aceh yang isinya:
Beuteugoh keu kejadian alam
Meuyoe na cicem-cicemjipo meujioh laot
Teuma ie laot di pante surot
Akan kah eu engkeut menggepak-gepak
Bek ka lurot nafsu
Lagee ureng Aikah nyang geupantang bak uroe Sabtu
Menyoe na tanda-tanda nyan
Seutot hojipo deem camar
Sabab ombak dasyat akan menggelung
Kiamat qubro hanalah urung
Yang dalam bahasa Indonesia artinya:
Waspadalah terhadap kejadian alam
Jika ada burung-burung putih terbang menjauhi laut
Kemudian laut di pantai surut
Akan engkau lihat ikan menggelepar-gelepar
Janganlah engkau turuti nafsu
Seperti orang Aikah yang melanggar pantangan hari Sabtu
Jika ada tanda-tanda seperti itu
Ikutilah arah terbang burung-burung putih
Sebab ombak dahsyat akan menggulung
Kiamat besar tidaklah urung
Hasil riset ditambah mimpi kakeknya membuat Anwar menghubungi Pak Mansyur dan menyarankan untuk menunda pengerjaan proyeknya. Mengetahui hal tersebut, beberapa warga Lokhnga marah pada Anwar, mereka menganggap Anwar menghambat pembangunan Metropolitan Lokhnga. Ia pun dimusuhi oleh warga kampung halamannya sendiri. Terasa menyakitkan baginya.
Beberapa hari setelah itu Anwar ditangkap karena diduga sebagai anggota GAM. Muadz, anggota GAM yang membebaskannya terus menyebut-nyebut Anwar sehingga Anwar dicurigai sebagai sekutu GAM.
Pagi hari, tanggal 26 Desember 2005, Anwar masih meringkuk di sel tahanan militer. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh laut yang sangat tinggi sudah melanda pemukiman.
Tsunami…!!!
Penjaga sel membuka kunci tahanan dan menyuruh semua tahanan keluar dari sel. Begitu Anwar keluar, air berwarna coklat disertai serpihan bangunan menyerbu masuk. Dalam waktu singkat, mereka kena gelombang, dan berusaha berenang mencari permukaan. Akhirnya mereka menepi dan selamat. Setelah arus air berhenti bumi Tanah Rencong menjadi hancur berantakan, mayat pun bergeletakan. Pada siang harinya, Anwar sampai di Lokhnga. Lokhnga sudah rata dengan tanah.
Keesokan harinya, Anwar bertemu dengan Pak Mansyur. Mereka berdua sebagai anak-anak Lokhnga sepaham, sepakat, dan bertekad untuk kembali membangun Lokhnga.

No comments:

Post a Comment