Friday, October 16, 2009

Berdirinya Kesultanan Islam di Indonesia

Berdirinya Kesultanan Islam di Indonesia

Kesultanan Samudra Pasai
Tahun 1128 ada seorang laksamana Mesir yang ditugaskan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah dan merebutnya dari para pedagang Gujarat. Namanya adalah Nazimuddin al Kamil. Demi tujuannya itu, ia mendirikan kerajaan di Sumatera Utara. Lalu berdirilah kerajaan tersebut dengan nama Samudra Pasai.
Kesultanan Malaka
Pada abad ke 15 M terjadi perang saudara di Majapahit yaitu Perang Paregreg. Sehingga salah satu pangeran Majapahit yang bernama Paramisora melarikan diri dari Blambangan (Banyuwangi) ke Tumasik (Singapura). Karena dirasa tak aman, dia pindah ke Semenanjung Malaka. Lalu dibantu oleh petani dan nelayan setempat, dia pun mendirikan Kerajaan Malaka. Karena perdagangan di sana didominasi oleh para pedagang Islam, maka pengaruh Islam di daerah tersebut mejadi sangat besar. Paramisora pun akhirnya memutuskan untuk menganut Agam Islam dan berganti nama menjadi Iskandar Syah.
Kesultanan Aceh
Berdasarkan Bustanusslatin (1637M) karangn Nuruddin Ar-Raniri yang berisi silsilah sultan-sultan Aceh, dan berdasarkan berita-berita orang Eropa, diketahui bahwa Kerajaan Aceh berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pedir.
Kesultanan Aceh berdiri menjelang keruntuhan dari Samudera Pasai yang pada tahun 1360 ditaklukkan oleh Majapahit hingga kemundurannya di abad ke-14. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh) dengan sultan pertamnya adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada pada Ahad, 1 Jumadil awal 913 H atau pada tanggal 8 September 1507.
Kesultanan Demak
Terdapat beberapa penyebab terdirinya Kesultanan Demak, yang beberapa diantaranya adalah :
-          Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis sehingga para pedagang Islam mencari persinggahan lain dan perdagangan baru
-          Raden Patah yang mendirikan Demak merupakan keturunan Brawijaya V, Raja Majapahit dari perkawinannya dengan Putri Campa yang beragama Islam
-          Raden Patah didukung oleh para wali yang sangat dihormati
-          Patih-patih dari daerah pesisir banyak yang tidak puas dengan Kerajaan Majapahit dan mendukung Raden Patah sebagai hasil dari ketidakpuasannya tersebut
-          Mundur dan hancurnya Kerajaan Majapahit karena Perang Paregreg
-          Pusaka keratin Majapahit sebagai lambing pemegang kekuasaan diberikan kepada Raden Patah, sehingga beliau menjadi penerus sah dari Kerajaan Majapahit dan sebagai ganti Majapahit yang telah hancur, mendirikan Kesultanan Demak yang bernafaskan Islam.


Kesultanan Banten
Pada abad ke 15 M, Fatahillah berhasil menduduki Banten dan berkuasa di daerah tersebut. Adapun Cirebon diserahkan kepada putranya yang bernama Pangeran Pasarean. Pada tahun 1522, Pangeran Pasarean wafat, sehingga Fatahillah mengambil alih Cirebon dan Banten ia serahkan kepada putranya, Hasanuddin, yang dikenal sebagai sultan pertama di Banten.
Kesultanan Mataram
Setelah Demak runtuh, pusat pemerintahannya dipindahkan ke Pajang dan menjadi Kesultanan Pajang dengan raja pertama Sultan Hadiwijaya. Pada saat itu, Demak hanya sebagai kadipaten yang dipimpin oleh Arya Pangiri. Lalu Arya pangiri di bunuh oleh Kiai Gede Pamanahan yang kemudian mendapat imbalan dari Sultan Hadiwijaya berupa daerah Mataram. Dalam waktu singkat Mataram berkembang pesat dan kemudian Pajang direbut Mataram, pusat pemerintahan pun dipindah ke Mataram, lahirlah Kesultanan Mataram.
Kesultanan Gowa dan Tallo
Pada awalnya di Sulawesi Selatan berdiri beberapa kerajaan, sampai beberapa diantara mereka bersati membentuk kerajaan besar, salah satunya adalah Kerajaan Gowa dan Tallo. Kerajaan Gowa dan Tallo menjadi kerajaan Islam karena dakwah dari Datuk Ri Bandang dan Datuk Sulaiman dari Minangkabau.
Kesultanan Ternate dan Tidore
Kerajaan Tidore pada mulanya merupakan persekutuan dari beberapa kerajaan kecil dalam kelompok Uli Siwa yang dipimpin Tidore dan beranggotakan pulau-pulau Makayan, Jailolo, Halmahera, dan pulau-pulau di dekat Papua.
Pulau Gapi (kini Ternate) mulai ramai di awal abad ke-13, penduduk Ternate awal merupakan warga eksodus dari Halmahera. Awalnya di Ternate terdapat 4 kampung yang masing - masing dikepalai oleh seorang momole (kepala marga), merekalah yang pertama – tama mengadakan hubungan dengan para pedagang yang datang dari segala penjuru mencari rempah – rempah. Penduduk Ternate semakin heterogen dengan bermukimnya pedagang Arab, Jawa, Melayu dan Tionghoa. Oleh karena aktifitas perdagangan yang semakin ramai ditambah ancaman yang sering datang dari para perompak maka atas prakarsa momole Guna pemimpin Tobona diadakan musyawarah untuk membentuk suatu organisasi yang lebih kuat dan mengangkat seorang pemimpin tunggal sebagai raja.
Tahun 1257 momole Ciko pemimpin Sampalu terpilih dan diangkat sebagai Kolano (raja) pertama dengan gelar Baab Mashur Malamo (1257-1272). Kerajaan Gapi berpusat di kampung Ternate, yang dalam perkembangan selanjutnya semakin besar dan ramai sehingga oleh penduduk disebut juga sebagai “Gam Lamo” atau kampung besar (belakangan orang menyebut Gam Lamo dengan Gamalama). Semakin besar dan populernya Kota Ternate, sehingga kemudian orang lebih suka mengatakan kerajaan Ternate daripada kerajaan Gapi. Di bawah pimpinan beberapa generasi penguasa berikutnya, Ternate berkembang dari sebuah kerajaan yang hanya berwilayahkan sebuah pulau kecil menjadi kerajaan yang berpengaruh dan terbesar di bagian timur Indonesia khususnya Maluku
Pada saat itu, baik Ternate maupun Tidore sangat membenci Portugis yang memonopoli perdaganan di Maluku, sehingga kedatangan Belanda pada saat itu disambut dengan baik oleh keduanya. Pada kenyataannya Belanda malah lebih kejam dari Portugis, dimana aturan-aturan monopoli mereka lebih berat dari Portugis. Bertahun-tahun (1635-1780) Ternate dan Tidore berusah mengusir Belanda, tetapi hasilnya nihil. Hingga pada akhir abad ke 17 M Inggris datang ke Maluku. Sultan Nuku dari Tidore berhasil mengadu domba Inggris dan Belanda sehingga mereka dapat diusir dari Tidore. Tahun 1801 Sultan Nuku menyerang Ternate sehingga Ternate dan Tidore bersatu.
Kesimpulan
Faktor-faktor yang menyebabkan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam (kesultanan) di Indonesia antara lain:
-          Pendirian kesultanan dengan tujuan menguasai perdagangan di daerah tersebut.
-          Bekas bangsawan kerajaan hindu-buddha mendirikan kerajaan dibantu oleh masyarakat dan karena pengaruh Islam saat itu sangat besar, kerajaan itu berganti ‘format’ menjadi kesultanan
-          Sistem monopoli Portugis yang membuat pedagang Islam pindah tempat, kemudian tempat yang disinggahi para pedagang berkembang pesat menjadi kerajaan Islam yang besar
-          Perkawinan bangsawan dengan bangsawan beragama Islam
-          Ketidakpuasaan masyarakat pada system hindu-buddha sehingga mendukung kerajaan Islam
-          Jatuhnya kerajaan-kerajaan hindu-buddha
-          Hasil perebutan wilayah dengan Portugis
-          Letak suatu kerajaan yang strategis dan sering dilewati pedagang Islam
-          Bersatunya kerajaan-kerajaan kecil menjadi kerajaan besar yang kemudian mendapat dakwah dari sunan-sunan dan menjadi kerajaan Islam (kesultanan)

1 comment: